Desember 2001, pertama kali gua bawa group ke Eropa.
Tanggal 24 Desember, sore hari tiba di Nice. Setelah makan malam bus langsung menuju ke hotel untuk check in.
Selesai proses check in di hotel satu keluarga menghampiri gua dan bertanya dimana gereja agar mereka bisa merayakan malam Natal.
Gua bilang di sebelah hotel ada sebuah gereja Katholik dan gua janji akan mengantar mereka menuju kesana.
Mereka berempat naik untuk menukar pakaian, sedangkan gua buru-buru lari menuju ke gereja yang gua sebutkan tadi untuk mencari informasi sekalian memastikan jalan menuju ke gereja tersebut, maklum gua juga pertama kali ke kota ini.
Tidak susah mencari gereja tersebut karena hanya 1 blok dari hotel kami. Namun sepertinya sepi-sepi saja.
Sesampai di pintu masuk gua bertemu seorang Pastor, buru-buru gua bertanya jadwal upacaranya. Dasar nasib kurang bagus, menurut beliau upacaranya baru saja selesai setengah jam yang lalu.
Pastor tersebut lalu menyarankan gua mengejar upacara misa di Kathedral yang hanya 4 blok dari hotel kami. Dia pun memberikan arah menuju ke Katedral tersebut.
Setelah berterima kasih gua buru-buru kembali ke hotel dan ternyata keluarga tersebut sudah menunggu di lobby hotel.
Gua sampaikan informasi yang gua peroleh, merekapun setuju untuk mengikuti upacara Natal di Katedral itu.
Katedral ternyata tidak sulit di temukan, petunjuk yang diberikan si Pastor sangat cespleng. Kami pun masuk dan mengikuti upacara malam Natal. Choir di gereja sangat bagus, rata-rata yang datang ke gereja adalah manula. Berbeda dengan malam Natal di Jakarta yang penuh sesak.
Selesai upacara gua keluar bersama mereka berempat dan berjalan kaki menuju ke hotel sambil ngobrol membandingkan suasana upacara Natal di Jakarta dan di Nice.
Karena asik ngobrol gua gak perhatiin jalan, gua baru sadar kalo gua udah salah jalan setelah menemukan jalan menanjak, karena tadi ketika datang gua gak melalui jalan menurun.
Kita balik lagi menyusuri jalan yang tadi, ternyata kita udah salah jalan lumayan jauh. Wah musti bertanya sama orang nih.
Sambil terus berjalan gua celingak celinguk cari orang agar bisa bertanya jalan. Namun jalanan sepi gak ada orang yang lalu lalang cuma mobil sekali-sekali lewat padahal ini bukan jalanan kecil, mungkin sepi karena libur Natal yah.
Gua mikir gimana kalau gua cegat mobil yang lewat dan bertanya arah. Wah apa ada yang mau berhenti ya, nanti disangka rampok lagi. Tapi bodo ah gua coba aja.
1 - 2 mobil yang lewat gua cegat mereka gak berhenti. Eh pas mobil yang ke 3 berhenti, syukur dah.
Gua samperin sopirnya yang ternyata perempuan. "Excuse me,......"
Sebelum gua selesai ngomong dia udah motong "No english....No english"
Mateng gua doi gak ngerti bahasa Inggris. "Van, coba tanya dia bisa bahasa Jerman gak, saya bisa nih" kata si ibu yang bersama gua. Buru-buru gua tanyain dan eh ternyata doi bisa. Si ibu langsung nanyain arah hotelnya ke wanita tersebut.
Tanya punya tanya si empunya mobil malah nawarin untuk nganterin kita ke hotel pake mobil dia, buru-buru aja kita terima tawarannya daripada nyasar lagi.
Kami berempat masuk duduk di belakang, si ibu duduk di depan di samping wanita itu. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol dalam bahasa Jerman. Wih jago juga si ibu itu, nyesel gua dulu sering bolos kelas bahasa Jerman.
Singkat kata kita berlima sampai di hotel. Setelah ber bye-bye ria si wanita itu berlalu.
Di kamar gua berpikir, kalau tadi wanita itu tidak mau berhenti pasti kita semua muter-muter kaya komidi puter dan kalau si ibu gak bisa bahasa Jerman pasti kita gak bakal bisa mendapat tumpangan. Mungkin ini berkah malam Natal yah.
Minggu, 30 November 2008
Sabtu, 29 November 2008
Yah Mobilnya Jalan
Waktu gua kecil badan gua kecil kurus dan gua tinggal di daerah tanah sereal.
Di depan rumah gua ada sebuah kali dan sebuah jembatan.
Gua dan teman-teman tetangga gua suka bermain di bantaran sungai.
Suatu hari gua main petak umpet bersama mereka. Pas gilirannya musti ngumpet, semua tempat yang cocok buat ngumpet udah dipakai mereka.
Kecuali sebuah mobil box yang sedang parkir di depan rumah. Buru-buru gua menyelinap masuk ke kolong mobil itu.
Ternyata tempat ini cocok sekali untuk ngumpet, satu persatu teman-teman gua ketahuan tempat ngumpetnya sampai cuma gua yang belum ketahuan.
Hingga akhirnya yang temen gua yang kena giliran nyari mulai menyerah dan mulai berteriak-teriak memanggil nama gua dan menyatakan menyerah.
Sambil cekikikan gua mutusin buat keluar tapi sebelum gua bergerak untuk keluar, gua dengar mesin mobil dinyalakan dan mobil berjalan.
Gua ketakutan sekali, mati gua kali ini umpat gua dalam hati sambil memejamkan mata gak berani bergerak.
Gua diam gak bergerak hingga gua denger suara teman-teman gua memanggil gua, gua buka mata mereka sudah berjongkok di sekeliling gua.
Sejak saat itu gua sumpah, seumur hidup gak mau masuk ke kolong mobil lagi.
Di depan rumah gua ada sebuah kali dan sebuah jembatan.
Gua dan teman-teman tetangga gua suka bermain di bantaran sungai.
Suatu hari gua main petak umpet bersama mereka. Pas gilirannya musti ngumpet, semua tempat yang cocok buat ngumpet udah dipakai mereka.
Kecuali sebuah mobil box yang sedang parkir di depan rumah. Buru-buru gua menyelinap masuk ke kolong mobil itu.
Ternyata tempat ini cocok sekali untuk ngumpet, satu persatu teman-teman gua ketahuan tempat ngumpetnya sampai cuma gua yang belum ketahuan.
Hingga akhirnya yang temen gua yang kena giliran nyari mulai menyerah dan mulai berteriak-teriak memanggil nama gua dan menyatakan menyerah.
Sambil cekikikan gua mutusin buat keluar tapi sebelum gua bergerak untuk keluar, gua dengar mesin mobil dinyalakan dan mobil berjalan.
Gua ketakutan sekali, mati gua kali ini umpat gua dalam hati sambil memejamkan mata gak berani bergerak.
Gua diam gak bergerak hingga gua denger suara teman-teman gua memanggil gua, gua buka mata mereka sudah berjongkok di sekeliling gua.
Sejak saat itu gua sumpah, seumur hidup gak mau masuk ke kolong mobil lagi.
Taxi
Ketika krisis ekonomi melanda negri ini gua lari ke Sydney-Australia untuk mengadu nasib.
Gua kerja di sebuah restaurant Jepang yang dimiliki oleh orang Taiwan.
Satu malam sepulang kerja, gua bergabung dengan beberapa teman Indonesia yang gua kenal di sana untuk sekedar minum-minum dan mengobrol ngalor ngidul.
Gua dan teman-teman malam itu minum hingga pihak bar menolak menjual minuman lagi karena kami dianggap sudah terlalu mabuk.
Karena sudah tidak boleh membeli minuman lagi kami memutuskan untuk bubar.
Keluar dari bar, gua langsung mengarah ke apartment untuk pulang. Karena dekat, gua jalan kaki.
Sebelum beranjak pergi gua sempat melihat satu dari teman gua berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil patroli polisi.
Gua sempat berkata, "Man, itu mobil polisi !"
"Mabok lu, gua nyegat taxi" jawab teman gua.
Karena takut tersangkut masalah gua langsung balik badan pergi karena gua sendiri pendatang gelap.
Sejak saat malam itu gua gak pernah ketemu lagi sama teman gua itu.
Menurut beberapa teman, malam itu mobil yang dihentikan teman gua ternyata benar mobil polisi.
Polisi mengira teman gua perlu bantuan hingga menghentikan mobil patroli polisi. Karena teman gua terlihat sangat mabuk, polisi berinisiatif mengantarkannya pulang.
Sebelum diantar pulang, polisi sempat meminta teman gua menunjukan Identitasnya. Karena tidak dapat menunjukan identitasnya ketahuanlah teman gua ini pendatang gelap.
Maka diantarlah teman gua itu pulang bahkan hingga ke tanah air.
Gua kerja di sebuah restaurant Jepang yang dimiliki oleh orang Taiwan.
Satu malam sepulang kerja, gua bergabung dengan beberapa teman Indonesia yang gua kenal di sana untuk sekedar minum-minum dan mengobrol ngalor ngidul.
Gua dan teman-teman malam itu minum hingga pihak bar menolak menjual minuman lagi karena kami dianggap sudah terlalu mabuk.
Karena sudah tidak boleh membeli minuman lagi kami memutuskan untuk bubar.
Keluar dari bar, gua langsung mengarah ke apartment untuk pulang. Karena dekat, gua jalan kaki.
Sebelum beranjak pergi gua sempat melihat satu dari teman gua berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil patroli polisi.
Gua sempat berkata, "Man, itu mobil polisi !"
"Mabok lu, gua nyegat taxi" jawab teman gua.
Karena takut tersangkut masalah gua langsung balik badan pergi karena gua sendiri pendatang gelap.
Sejak saat malam itu gua gak pernah ketemu lagi sama teman gua itu.
Menurut beberapa teman, malam itu mobil yang dihentikan teman gua ternyata benar mobil polisi.
Polisi mengira teman gua perlu bantuan hingga menghentikan mobil patroli polisi. Karena teman gua terlihat sangat mabuk, polisi berinisiatif mengantarkannya pulang.
Sebelum diantar pulang, polisi sempat meminta teman gua menunjukan Identitasnya. Karena tidak dapat menunjukan identitasnya ketahuanlah teman gua ini pendatang gelap.
Maka diantarlah teman gua itu pulang bahkan hingga ke tanah air.
Kamis, 27 November 2008
Ayam vs Bebek
Hari ini 4 July 1994, gua udah ngantri di check in kounter Phillipine Airlines selama 2 jam.
Pesawat gua untuk kembali ke Jakarta di cancel oleh pihak Airlines karena masalah teknis, pesawatnya rusak di Manila dan dan pesawat pengganti baru tiba besok pagi jam 8.00.
Mereka memang memberikan fasilitas hotel dan makan pagi kepada para penumpang. Masalahnya gua udah nunggu selama 2 jam untuk diangkut ke hotel.
Tunggu punya tunggu akhirnya gua berhasil berbicara dengan seorang petugas di check in kounter, "Sir, when will you take all of us to the hotel you provided ?"
"Please wait Sir, we must prepare the voucher to the hotel for you to check in at the hotel" jawab si petugas. Oke deh gua tunggu lagi jadinya.
Setelah bosan bengang bengong lagi menunggu selama satu jam, kembali gua maju ke kounter untuk bertanya kembali.
Jawaban gua dapat adalah, "Please be patience Sir, we are writting voucher for 200 passenger not only you" Toing-toing....emosi terpicu banget nih.
"EH, LU TAU GAK GUA UDAH NUNGGU LEBIH DARI 3 JAM. KALO LU TAU MUSTI NULIS VOUCHER BUAT 200 PENUMPANG MUSTINYA UDAH LU TULIS SEBELUM LU BUKA KOUNTER LU. JADI GUA GAK USAH NUNGGU KAYA GINI!!!" nada suara gua udah meninggi emosi soalnya.
Gua liat si petugas bengong melongo seperti orang bingung, Ohmigod, gua baru sadar kalo gua marah-marah pakai bahasa Indonesia pantes dia bengong. Ayam mana ngerti bahasa bebek yah.
Dengan muka merah marah campur malu gua balik badan dan buru-buru cari tempat duduk dan menunggu dengan anteng
Pesawat gua untuk kembali ke Jakarta di cancel oleh pihak Airlines karena masalah teknis, pesawatnya rusak di Manila dan dan pesawat pengganti baru tiba besok pagi jam 8.00.
Mereka memang memberikan fasilitas hotel dan makan pagi kepada para penumpang. Masalahnya gua udah nunggu selama 2 jam untuk diangkut ke hotel.
Tunggu punya tunggu akhirnya gua berhasil berbicara dengan seorang petugas di check in kounter, "Sir, when will you take all of us to the hotel you provided ?"
"Please wait Sir, we must prepare the voucher to the hotel for you to check in at the hotel" jawab si petugas. Oke deh gua tunggu lagi jadinya.
Setelah bosan bengang bengong lagi menunggu selama satu jam, kembali gua maju ke kounter untuk bertanya kembali.
Jawaban gua dapat adalah, "Please be patience Sir, we are writting voucher for 200 passenger not only you" Toing-toing....emosi terpicu banget nih.
"EH, LU TAU GAK GUA UDAH NUNGGU LEBIH DARI 3 JAM. KALO LU TAU MUSTI NULIS VOUCHER BUAT 200 PENUMPANG MUSTINYA UDAH LU TULIS SEBELUM LU BUKA KOUNTER LU. JADI GUA GAK USAH NUNGGU KAYA GINI!!!" nada suara gua udah meninggi emosi soalnya.
Gua liat si petugas bengong melongo seperti orang bingung, Ohmigod, gua baru sadar kalo gua marah-marah pakai bahasa Indonesia pantes dia bengong. Ayam mana ngerti bahasa bebek yah.
Dengan muka merah marah campur malu gua balik badan dan buru-buru cari tempat duduk dan menunggu dengan anteng
Ini Krupuk
Pada suatu pagi di Hongkong.
Pagi itu gua lagi breakfast di hotel Parklane yang terkenal banyak digunakan oleh orang Indonesia ketika berada di Hongkong.
Ketika mengantri pada bagian cornflake gua berdiri tepat di sebelah sepasang kakek-nenek yang bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia.
Setelah mengambil secukupnya cornflake pilihan gua, gua langsung mengambil jug susu dingin yang tersedia dan sempat melirik ke arah si kakek tadi yang juga mengambil cornflake.
Sempat tertangkap di telinga si nenek bertanya "Apa itu ?" lalu si kakek menjawab "Ini emping, enak buat dicampur dengan bubur yang Ike ambil tadi"
Sambil senyum-senyum gua buru-buru duduk untuk menikmati cornflake dan susu saja tanpa bubur.
Pagi itu gua lagi breakfast di hotel Parklane yang terkenal banyak digunakan oleh orang Indonesia ketika berada di Hongkong.
Ketika mengantri pada bagian cornflake gua berdiri tepat di sebelah sepasang kakek-nenek yang bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia.
Setelah mengambil secukupnya cornflake pilihan gua, gua langsung mengambil jug susu dingin yang tersedia dan sempat melirik ke arah si kakek tadi yang juga mengambil cornflake.
Sempat tertangkap di telinga si nenek bertanya "Apa itu ?" lalu si kakek menjawab "Ini emping, enak buat dicampur dengan bubur yang Ike ambil tadi"
Sambil senyum-senyum gua buru-buru duduk untuk menikmati cornflake dan susu saja tanpa bubur.
Selasa, 25 November 2008
Bego Lu
Kemarin siang, gua sedang buru-buru dan memacu motor dengan kecepatan tinggi di Jl. AM. Sangaji.
150 m sebelum perempatan lampu merah, lampu hijau masih menyala jelas dan lalu lintas di depan gua kosong melompong.
Gua genjot lagi motor gua supaya dapat melewati lampu lalu lintas itu sebelum berubah menjadi merah.
Begitu hampir melewati perempatan, dari arah sebelah kanan sebuah bajaj melaju dengan santai walaupun ia tahu lampu lalu lintas dari arahnya masih merah.
Dengan sepenuh tenaga saya menginjak rem belakang dan menekan rem depan, ban belakang berdecit dan membuang ke kiri dan ke kanan.
Usaha keras gua berhasil menghentikan motor tepat sebelum terjadi tabrakan parah dan bajaj melintas tepat di depan motor gua.
Sambil melintas si sopir bajaj melihat ke arah gua dan berkata "BEGO AMAT SIH LU !!"
Gua terbengong-bengong dan bertanya dalam hati "Lho kok bisa ??"
150 m sebelum perempatan lampu merah, lampu hijau masih menyala jelas dan lalu lintas di depan gua kosong melompong.
Gua genjot lagi motor gua supaya dapat melewati lampu lalu lintas itu sebelum berubah menjadi merah.
Begitu hampir melewati perempatan, dari arah sebelah kanan sebuah bajaj melaju dengan santai walaupun ia tahu lampu lalu lintas dari arahnya masih merah.
Dengan sepenuh tenaga saya menginjak rem belakang dan menekan rem depan, ban belakang berdecit dan membuang ke kiri dan ke kanan.
Usaha keras gua berhasil menghentikan motor tepat sebelum terjadi tabrakan parah dan bajaj melintas tepat di depan motor gua.
Sambil melintas si sopir bajaj melihat ke arah gua dan berkata "BEGO AMAT SIH LU !!"
Gua terbengong-bengong dan bertanya dalam hati "Lho kok bisa ??"
Langganan:
Komentar (Atom)
